Mansagan News– Suasana Ramadan 1447 H terasa lebih hidup di MAN 1 Grobogan. Selama kurang lebih tiga minggu, mulai 23 Februari hingga 14 Maret 2026, seluruh peserta didik mengikuti program pembinaan karakter yang disusun lebih intens, terarah, dan menyentuh sisi spiritual sekaligus intelektual mereka.
Khusus untuk kelas X dan XI, pembinaan diisi dengan kajian kitab fikih. Kelas X mempelajari Mabadi’ Fiqih Juz 2 atau Mabadiul Fiqhiyyah karya Syaikh Umar Abdul Jabbar, sementara kelas XI mendalami Mabadi’ Fiqih Juz 3 sebagai kelanjutan tingkatannya.
Kitab Juz 2 merupakan panduan dasar fikih Islam yang disusun dengan metode tanya-jawab, sehingga memudahkan peserta didik memahami materi secara sistematis dan bertahap. Sebagai lanjutan dari tingkat pemula pada Juz 1, pembahasannya berfokus pada hukum-hukum ibadah praktis, seperti thaharah (bersuci), penjelasan detail tentang salat fardu dan sunah, puasa, serta pengenalan konsep dasar hukum Islam. Penyajiannya yang lugas dan aplikatif membuat murid lebih mudah mengaitkan materi dengan praktik ibadah sehari-hari.

Adapun Juz 3 memiliki cakupan yang hampir sama, namun dengan pembahasan yang lebih mendalam dan detail. Materi-materi ibadah dijelaskan dengan penekanan pada pemahaman dalil, ketentuan hukum yang lebih luas, serta penguatan konsep agar murid memiliki landasan fikih yang lebih kokoh. Dengan pola bertahap ini, murid tidak hanya mengetahui tata cara, tetapi juga memahami dasar dan hikmah dari setiap hukum yang dipelajari.
Pemilihan kitab Mabadi’ Fiqih sebagai materi pembinaan bukan tanpa alasan. Kitab ini dinilai cukup mendasar namun menyeluruh, sehingga sangat tepat untuk membangun fondasi pemahaman fikih bagi murid madrasah aliyah. Bahasanya yang sistematis, model tanya-jawab yang komunikatif, serta urutan materi yang runtut menjadikannya relevan sebagai pegangan dalam program pembinaan karakter Ramadan.
Kajian kitab dipandu oleh guru PAI dan Bahasa Arab yang tergabung dalam tim keislaman madrasah. Dengan kompetensi dan penguasaan materi yang baik, para pengajar menyampaikan isi kitab secara kontekstual, membuka ruang diskusi, serta mengaitkannya dengan kehidupan remaja masa kini.
Selain pendalaman kitab, pembiasaan ibadah juga diperkuat. Pembacaan Al-Qur’an dilakukan dengan durasi lebih panjang dibandingkan hari-hari biasa. Setiap pagi, suasana kelas dipenuhi lantunan ayat suci yang menghadirkan ketenangan sekaligus membangun kedekatan spiritual peserta didik dengan Al-Qur’an. Salat Duha pun dilaksanakan secara rutin dan lebih intens setiap hari sebagai latihan konsistensi dan kedisiplinan.
Sementara itu, kelas XII mengikuti rangkaian kegiatan berupa salat Duha, istigasah bersama, serta kajian Ramadan yang dipandu oleh Bapak/Ibu tim keislaman. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan mental dan spiritual bagi murid tingkat akhir dalam menghadapi tahapan akhir pendidikan mereka.

Kepala Madrasah, Kasmuin, menyampaikan bahwa program khusus Ramadan ini merupakan ikhtiar bersama untuk menjadikan bulan suci sebagai ruang pembentukan karakter yang nyata. “Ramadan adalah kesempatan emas untuk membangun kebiasaan baik. Kami ingin murid memiliki dasar pemahaman agama yang kuat sekaligus terbiasa mengamalkannya,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa penggunaan kitab Mabadi’ Fiqih menjadi bagian dari strategi menghadirkan pembelajaran yang kokoh secara dasar namun tetap menyeluruh.
Ketua tim koordinator keislaman, M. Abduh, turut menambahkan bahwa keseimbangan antara kajian ilmiah dan pembiasaan ibadah menjadi ruh dari program ini. “Pendalaman kitab memberikan pondasi keilmuan, sedangkan tadarus, salat Duha, dan istigasah membentuk kebiasaan spiritual. Harapannya, nilai-nilai Ramadan tidak berhenti di bulan ini saja, tetapi terus hidup dalam keseharian murid,” tuturnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, pada 13 Maret 2026 seluruh kelas akan memperingati Nuzulul Quran. Momentum tersebut menjadi refleksi bersama untuk semakin menghayati makna turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan sumber inspirasi dalam menuntut ilmu. Melalui program ini, MAN 1 Grobogan berharap Ramadan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan menjadi titik penguatan karakter yang membekas dan menumbuhkan generasi berilmu, berakhlak, serta berkomitmen pada nilai-nilai Islam. (TK Mansagan)
