17 views

Dari Limbah Jadi Berkah: Aksi Inspiratif Murid MAN 1 Grobogan Olah Kulit Buah Jadi Ekoenzim Penyelamat Lingkungan

Mansagan News– Semangat peduli lingkungan kembali ditunjukkan oleh keluarga besar MAN 1 Grobogan melalui aksi nyata yang edukatif dan inspiratif. Dipandu oleh guru Biologi, Dwi Hapsari Endah Retnani, para murid yang tergabung dalam Tim Adiwiyata dan Duta Lingkungan Hidup diajak mengolah limbah organik berupa kulit buah menjadi ekoenzim cairan serbaguna hasil fermentasi yang ramah lingkungan.

Kegiatan panen ekoenzin dan aksi nyata di lingkungan madrasah ini, bukan sekadar praktik pembelajaran biasa, melainkan sebuah gerakan kecil dengan dampak besar. Di tengah meningkatnya permasalahan sampah organik, khususnya limbah rumah tangga dan kantin madrasah, langkah inovatif ini menjadi solusi konkret dalam mengurangi penumpukan sampah sekaligus meningkatkan kesadaran ekologis murid.

Hari ini Rabu, 8 April 2026, bersamaan dengan praktik baik, Rabu bebas sampah , Gampil turut mewarnai hari ini, yaitu program GAMPIL, Gerakan Aman Peduli Lingkungan. Dengan penuh antusias, para murid mengumpulkan berbagai jenis kulit buah seperti jeruk, nanas, dan apel yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Di tangan mereka, limbah tersebut diolah melalui proses fermentasi sederhana menjadi ekoenzim yang memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami hingga pengurai bau tidak sedap.

Hapsari menuturkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan sekitar madrasah, khususnya selokan yang terkadang menimbulkan bau kurang sedap. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga madrasah.

“Melalui pembuatan ekoenzim ini, saya ingin menanamkan kesadaran kepada murid bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana. Limbah yang selama ini dianggap sampah, ternyata bisa kita olah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ekoenzim yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan untuk membantu mengurangi bau pada selokan di sekitar lingkungan MAN 1 Grobogan. Dengan demikian, murid tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam solusi nyata terhadap permasalahan lingkungan di sekitar mereka.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang memperkuat nilai-nilai dalam program Adiwiyata. Para murid dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, dan solutif dalam menghadapi isu lingkungan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan dan kelestarian alam.

Tidak hanya itu, suasana kebersamaan dan gotong royong tampak kental dalam setiap proses kegiatan. Para murid saling bekerja sama, berdiskusi, dan berbagi peran dalam pembuatan ekoenzim. Hal ini sekaligus memperkuat karakter positif seperti kepedulian, kolaborasi, dan rasa memiliki terhadap lingkungan madrasah.

Melalui kegiatan ini, Hapsari berharap para murid dapat menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi lingkungan sekitar, baik di madrasah maupun di rumah masing-masing. Ia juga menekankan bahwa lingkungan yang bersih, asri, dan nyaman akan memberikan dampak besar terhadap kualitas belajar dan kesehatan seluruh warga sekolah.

“Jika lingkungan kita bersih dan nyaman, tentu proses belajar akan lebih menyenangkan. Dari sinilah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan,” tambahnya. Aksi sederhana namun bermakna ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. MAN 1 Grobogan terus berkomitmen menanamkan budaya cinta lingkungan melalui berbagai kegiatan nyata yang melibatkan seluruh warga madrasah. Dengan semangat Adiwiyata yang terus digaungkan, diharapkan kesadaran ekologis ini tumbuh menjadi karakter kuat dalam diri setiap murid. (TK Mansagan).