55 views

Dokter Yunus Bekali PMR WIRA Mansagan dengan Keterampilan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis

Mansagan News-MAN 1 Grobogan terus memperkuat kapasitas anggota Palang Merah Remaja (PMR) WIRA Mansagan dalam memberikan dukungan kepada teman sebaya. Kali ini, anggota PMR WIRA Mansagan mendapatkan sosialisasi mengenai Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) yang disampaikan oleh Dokter Yunus dari Puskesmas Purwodadi 1, Kamis, 24 September 2026, di Aula MAN 1 Grobogan.

Acara sosialisasi ini dibuka secara langsung oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Grobogan , bersama kepala tata usaha, dan wakil kepala bagian kesiswaaan. Acara berlangsung khidmad dan antusias peserta. Dalam sambutanya kasmuin menyampaiakn apresiasi kepada puskesma Purwodadi atas kegiatan positif tersebut. Kegiatan ini harapanya dapat menamnbah wawasan terkait penanganan luka psikologis.

“Kalian yang tergabung dalam PMR Wira harus sungguh-sungguh dan menyimak dengan baik, paparan dari petugas dari Puskesmas, kegiatan ini dapat menjadi ladang praktih baik untuk Kalian khususnya yang tergabung di anggota PMR MAN 1 Grobogan.” Ungkapnya.

Materi P3LP yang diberikan menekankan bahwa pertolongan pertama pada luka psikologis merupakan bantuan awal yang sederhana, praktis, dan tidak memaksa bagi seseorang yang sedang menghadapi kejadian berat atau kondisi yang menimbulkan tekanan psikologis. Tujuannya adalah memberikan rasa aman, dukungan, serta membantu menghubungkan seseorang dengan pihak yang tepat.

Dalam sosialisasi tersebut, Dokter Yunus menjelaskan bahwa anggota PMR tidak dituntut untuk menjadi tenaga profesional atau melakukan diagnosis. Peran mereka adalah memberikan dukungan awal sesuai kemampuan, tanpa mengambil alih peran psikolog, psikiater, dokter, maupun layanan kesehatan lainnya.

Perhatikan, Dengarkan, dan Hubungkan

Salah satu bagian penting dalam materi adalah tiga langkah utama P3LP, yaitu Perhatikan, Dengarkan, dan Hubungkan.

Pada tahap Perhatikan, murid diajak memastikan keamanan, mengamati perubahan perilaku, serta mengenali kebutuhan awal seseorang. Perubahan tersebut misalnya menjadi lebih pendiam, sering menangis, tidak fokus, tampak lelah, mengalami perubahan emosi, atau menarik diri dari lingkungan.

Tahap berikutnya adalah Dengarkan. Anggota PMR diajarkan untuk membuka percakapan dengan lembut, memberikan ruang kepada teman untuk bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, serta melakukan validasi terhadap perasaan yang sedang dialami. Jika seseorang belum siap bercerita, batasan tersebut harus dihormati.

Selanjutnya, Hubungkan, yaitu membantu seseorang mendapatkan dukungan dari pihak yang tepat, seperti teman tepercaya, guru BK, wali kelas, orang tua atau orang dewasa tepercaya, hingga tenaga profesional seperti dokter, psikolog, atau psikiater.

PMR Dilatih Menjadi Teman yang Peduli

Melalui kegiatan ini, anggota PMR WIRA Mansagan juga belajar memilih kalimat yang tepat ketika menghadapi teman yang sedang mengalami masalah. Kalimat seperti “Aku di sini kalau kamu butuh teman,”, “Kamu boleh cerita sebatas yang kamu nyaman,” dan “Mau kita cari bantuan bersama?” dapat menjadi bentuk dukungan yang membuat seseorang merasa didengar dan tidak sendirian.

Sebaliknya, anggota PMR diingatkan untuk menghindari ucapan seperti “Jangan terlalu dipikirkan,”, “Kamu harus kuat dong,” atau membandingkan masalah seseorang dengan masalah orang lain. Fokus utama adalah mendengarkan, memvalidasi perasaan, dan menawarkan bantuan.

Dokter Yunus juga memberikan pemahaman mengenai tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian serius (red flags), antara lain adanya pembicaraan mengenai keinginan untuk mati atau menyakiti diri, perubahan perilaku yang sangat drastis, gejala berat seperti kebingungan, penyalahgunaan zat yang membahayakan, maupun kondisi fisik atau lingkungan yang tidak aman. Dalam kondisi tersebut, keselamatan harus menjadi prioritas dan perlu segera melibatkan orang dewasa tepercaya serta bantuan profesional.

Peduli Tanpa Harus Menyelesaikan Semua Masalah

Melalui sosialisasi P3LP ini, anggota PMR WIRA Mansagan diharapkan semakin memahami bahwa menjadi teman yang peduli tidak berarti harus mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi orang lain.

Pesan utama yang diberikan adalah hadir, mendengarkan, dan membantu menghubungkan dengan pihak yang tepat. Bahkan kepedulian kecil dapat menjadi langkah awal bagi seseorang untuk memperoleh bantuan yang dibutuhkan.

Kegiatan ditutup dengan pesan sederhana namun bermakna: “Kamu tidak sendirian. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sendiri. Kalau terasa terlalu berat, kita cari bantuan bersama.”

Dengan bekal P3LP, PMR WIRA Mansagan diharapkan tidak hanya terampil dalam pertolongan pertama secara fisik, tetapi juga mampu menghadirkan kepedulian, empati, dan dukungan psikologis awal bagi sesama di lingkungan madrasah(TK Mansagan)